Filosofi Pendidikan PAUD
Sekumpulan masyarakat tentunya menginginkan agar setiap warganya merupakan insan-insan yang baik, sesuai dengan cita-cita dan nilai sosial masyarakat. Pendidikan merupakan proses sosial yang bertujuan membentuk manusia yang baik. Menurut cita-cita dan nilai tersebut, pandangan tentang manusia yang dicita-citakan tergambar dari falsafah pendidikan yang mendasari sistem pendidikan masyarakat. Suatu falsafah pendidikan memberi petunjuk cara berbuat atau bertingkah laku yang baik dalam masyarakat. (Di kutip dalam buku Prof. Dr. H. Oemar Hamalik, Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum hal 60).
Menurut saya dalam membentuk manusia yang baik sesuai dengan cita-cita dan nilai masyarakat itu bergantung pada sikap atau tingkah laku seseorang. Dalam falsafah pendidikan kita dapat membentuk tingkah laku yang baik tersebut karena falsafah pendidikan ini memberikan petunjuk cara berbuat di dalam kehidupan bermasyarakat.
Dalam sekolah terdapat falsafah pendidikan yang terdiri dari 4 falsafah yaitu :
1. Esensialisme
Menurut esensialis, pendidikan bertujuan untuk menyebarkan budaya. Bahan pokok kurikulum adalah sebuah rencana esensialis tentang organisasi kurikulum dan teknik-teknik pemberian pelajaran, dengan tes sebagai metodenya. Karya ilmiah, yakni kemampuan mendaur ulang apa yang telah di pelajari, merupakan nilai yang tinggi, dan pendidikan diawasi sebagai persiapan mencapai maksud pendidikan, seperti perguruan tinggi, lapangan kerja, dan kehidupan. (Di kutip dalam buku Prof. Dr. H. Oemar Hamalik, Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum hal 63).
Kesimpulannya adalah falsafah esensialisme pendidikan yang memiliki tujuan meneruskan warisan budaya yang ada di lingkungan masyarakat yang berkaitan dengan nilai-nilai dan sikap. Supaya budaya yang ada tidak hilang atau di gantikan oleh budaya luar.
2. Progresivisme
Filsafat progresif berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang. Karenanya, cara terbaik mempersiapkan para siswa untuk suatu masa depan yang tidak diketahui adalah membekali mereka dengan strategi-strategi pemecahan masalah yang memungkinkan mereka mengatasi tantangan-tantangan baru dalam kehiduoan dan untuk menemukan kebenaran-kebenaran yang relevan pada saat ini.
Progresivisme di dasarkan pada keyakinan bahwa pendidikan harus terpusat pada anak (child centered) bukannya memfokuskan pada guru atau bidang muatan. (Di kutip dalam buku Drs. Uyoh Sadulloh, M. Pd, Pengantar Filsafat Pendidikan hal 142-143).
Menurut saya progresivisme sistem pendidikannya lebih kepada anak yang berperan aktif di saat proses pembelajaran. Di sini guru hanyalah sebagai mediator, motivator dan fasilitator.
3. Nativisme
4. Eksistensialisme
Filsafat eksistensialisme ini lebih memfokuskan pada pengalaman-pengalaman individu. Eksistensialisme memberi individu suatu jalan berpikir mengenai kehidupan , apa maknanya bagi saya, apa yang benar untuk saya. Tujuan pendidikan adalah untuk mendorong setiap individu agar mampu mengembangkan semua potensinya untuk pemenuhan diri. Setiap individu memiliki kebutuhan dan perhatian yang spesifik berkaitan dengan pemenuhan dirinya, sehingga dalam menentukan kurikulum tidak ada kurikulum yang pasti dan ditentukan berlaku secara umum. (Di kutip dalam buku Drs. Uyoh Sadulloh, M. Pd, Pengantar Filsafat Pendidikan hal 133-137).
Menurut saya eksistensialisme ini memberikan kesempatan kepada setiap individu dalam mengembangkan potensinya berdasarkan pengalaman-pengalaman hidupnya. Dalam hal ini memberikan pemahaman pada setiap individu mengenai makna kehidupan.
Sumber :
Hamalik, Prof. Dr. Oemar. 2007. Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum. Bandung: Rosda
Sadulloh, M. Pd., Drs. Uyoh. 2010. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bumi Siliwangi: Alfabeta
