Kamis, 28 Maret 2019

Materi 5 Kurikulum

Filosofi Pendidikan PAUD
 Sekumpulan masyarakat tentunya menginginkan agar setiap warganya merupakan insan-insan yang baik,  sesuai dengan cita-cita dan nilai sosial masyarakat. Pendidikan merupakan proses sosial yang bertujuan membentuk manusia yang baik. Menurut cita-cita dan nilai tersebut,  pandangan tentang manusia yang dicita-citakan tergambar dari falsafah pendidikan yang mendasari sistem pendidikan masyarakat. Suatu falsafah pendidikan memberi petunjuk cara berbuat atau bertingkah laku yang baik dalam masyarakat. (Di kutip dalam buku Prof. Dr. H. Oemar Hamalik, Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum hal 60).

   Menurut saya dalam membentuk manusia yang baik sesuai dengan cita-cita dan nilai masyarakat itu bergantung pada sikap atau tingkah laku seseorang.  Dalam falsafah pendidikan kita dapat membentuk tingkah laku yang baik tersebut karena falsafah pendidikan ini memberikan petunjuk cara berbuat di dalam kehidupan bermasyarakat. 
 Dalam sekolah terdapat falsafah pendidikan yang terdiri dari 4 falsafah yaitu :
1. Esensialisme
    Menurut esensialis, pendidikan bertujuan untuk menyebarkan budaya.  Bahan pokok kurikulum adalah sebuah rencana esensialis tentang organisasi kurikulum dan teknik-teknik pemberian pelajaran,  dengan tes sebagai metodenya.  Karya ilmiah,  yakni kemampuan mendaur ulang apa yang telah di pelajari,  merupakan nilai yang tinggi,  dan pendidikan diawasi sebagai persiapan mencapai maksud pendidikan,  seperti perguruan tinggi,  lapangan kerja, dan kehidupan.  (Di kutip dalam buku Prof. Dr. H. Oemar Hamalik, Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum hal 63).

    Kesimpulannya adalah falsafah esensialisme pendidikan yang memiliki tujuan meneruskan warisan budaya yang ada di lingkungan masyarakat yang berkaitan dengan nilai-nilai dan sikap. Supaya budaya yang ada tidak hilang atau di gantikan oleh budaya luar. 

2. Progresivisme
    Filsafat progresif berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang.  Karenanya, cara terbaik mempersiapkan para siswa untuk suatu masa depan yang tidak diketahui adalah membekali mereka dengan strategi-strategi pemecahan masalah yang memungkinkan mereka mengatasi tantangan-tantangan baru dalam kehiduoan dan untuk menemukan kebenaran-kebenaran yang relevan pada saat ini. 
  Progresivisme di dasarkan pada keyakinan bahwa pendidikan harus terpusat pada anak (child centered) bukannya memfokuskan pada guru atau bidang muatan.  (Di kutip dalam buku Drs. Uyoh Sadulloh,  M. Pd, Pengantar Filsafat Pendidikan hal 142-143).

   Menurut saya progresivisme sistem pendidikannya lebih kepada anak yang berperan aktif di saat proses pembelajaran.  Di sini guru hanyalah sebagai mediator,  motivator dan fasilitator. 

3. Nativisme
4. Eksistensialisme
    Filsafat eksistensialisme ini lebih memfokuskan pada pengalaman-pengalaman individu.  Eksistensialisme memberi individu suatu jalan berpikir mengenai kehidupan , apa maknanya bagi saya,  apa yang benar untuk saya. Tujuan pendidikan adalah untuk mendorong setiap individu agar mampu mengembangkan semua potensinya untuk pemenuhan diri. Setiap individu memiliki kebutuhan dan perhatian yang spesifik berkaitan dengan pemenuhan dirinya,  sehingga dalam menentukan kurikulum tidak ada kurikulum yang pasti dan ditentukan berlaku secara umum.   (Di kutip dalam buku Drs. Uyoh Sadulloh,  M. Pd, Pengantar Filsafat Pendidikan hal 133-137).

     Menurut saya eksistensialisme ini memberikan kesempatan kepada setiap individu dalam mengembangkan potensinya berdasarkan pengalaman-pengalaman hidupnya.  Dalam hal ini memberikan pemahaman pada setiap individu mengenai makna kehidupan.

Sumber :
Hamalik, Prof. Dr. Oemar. 2007. Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum. Bandung: Rosda

Sadulloh, M. Pd., Drs. Uyoh. 2010. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bumi Siliwangi: Alfabeta


Senin, 25 Maret 2019

Materi 5 Filsafat Pendidikan

Filsafat Pendidikan sebagai dasar untuk pelaksanaan pendidikan yang humanis

  Logika adalah bidang pengetahuan yang mempelajari tentang asas,  aturan,  dan prosedur penalaran yang benar. Dengan istilah lain logika sebagai jalan atau cara untuk memperoleh pengetahuan yang benar. Dalam filsafat ada pemahaman bahwa pengetahuan yang tepat itu belum tentu benar,  tetapi pengetahuan yang benar itu pasti tepat. 
 Menurut saya logika merupakan cara memperoleh pengetahuan dengan menggunakan penalaran atau pikiran dengan dilandasi kemungkinan yang berkaitan dengan fakta atau contoh nyata. 

1. Defenisi Logika
   Istilah logika diambil dari bahasa Yunani logikos,  yang berarti 'mengenai sesuatu yang diutarakan,  mengenai sesuatu pertimabangan akal (pikiran), mengenai kata, mengenai percakapan , atau berkenaan dengan bahasa (Jan Hendrik Rapar,  2005:52).Dalam bahasa Latin logika di sebut dengan logos berarti perkataan atau sabda (Mundiri,  2003:8).
 Poedjawijatna (1966:15) menjelaskan bahwa logika merupakan kajian filsafat yang mengkajai manusia yang biasanya yang di kenal dengan filsafat budi,  di mana budi di sini adalah akal sebagai alat penyelidikan dalam mengambil suatu tindakan atau keputusan. 
  Secara umum logika adalah cabang filsafat yang membahas tentang asas-asas, aturan-aturan, dan prosedur dalam mencapai pengetahuan yang benar,  yang dapat dipertanggungjawabkan secara rasional. (Di kutip dalam buku Drs. A. Susanto,  M. Pd. Filsafat Ilmu) 

   Menurut saya logika adalah suatu perkataan atau pengetahuan yang di sampaikan melalui pertimbangan (akal pikiran) yang di dasarkan pada kemungkinan tetapi sesuai dengan fakta sehingga pengetahuan tersebut dapat dipertanggungjawabkan secara rasional. 

Sumber :
Drs. A. Susanto, M. Pd. 2010.Filsafat Ilmu. Jakarta: Bumi Aksara


Kamis, 21 Maret 2019

Materi 4 Kurikulum


KOMPONEN KURIKULUM DAN PENGEMBANGANNYA
            Menurut Wina Sanjaya (2008) kurikulum adalah sebuah dokumen perencanaan yang berisi tentang tujuan yang harus dicapai, isi materi dan pengalaman belajar yang harus dilakukan oleh siswa, strategi dan cara yang dapat dikembangkan, evaluasi yang dirancang untuk mengumpulkan informasi tentang pencapaian tujuan, serta implementasi dari dokumen yang dirancang dalam bentuk nyata. ( Dalam buku Dr. Ahmad Yani, M. Si Mindset Kurikulum 2013 hlm. 6)

Kurikulum sebagai suatu sistem keseluruhan memiliki komponen-komponen yang saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya : (Dalam buku Prof. Dr. Oemar Hamalik hlm. 23-30)
a.      Tujuan Kurikulum
Tujuan pendidikan tiap satuan pendidikan harus mengacu kearah pencapaian tujuan pendidikan nasional, sebagaimana telah ditetapkan dalam Undang-undang No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Kurikulum merupakan suatu alat pendidikan dalam rangka pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas. Kurikulum menyediakan kesempatan yang luas bagi peserta didik untuk mengalami proses pendidikan dan pembelajaran untuk mencapai target tujuan pendidikan nasional.
Menurut saya setiap kurikulum yang ditetapkan harus mengacu pada pencapaian tujuan pendidikan nasional. Dan setiap mata pelejaran yang dirancang dalam kurikulum juga mengacu pada tujuan pendidikan nasional. Meskipun tujuan setiap meta pelajaran berbeda tetapi tujuan utamanya haruslah tetap sama.

b.      Materi Kurikulum
Materi kurikulum pada hakikanya adalah isi kurikulum. Dalam Undang-undang Pendidikan tentang Sistem Pendidikan Nasional telah ditetapkan, bahwa. . .”Isi kurikulum merupakan bahan kajian dan pelajaran untuk mencapai tujuan penyelenggaraan satuan pendidikan yang bersangkutan dalam rangka upaya pencapaian tujuan pendidikan nasional” (Bab IX, Ps. 39).
     Menurut saya sama seperti halnya dengan tujuan kurikulum, materi (isi/bahan) kurikulum dalam setiap pembelajaran harus dapat mencapai tujuan pendidikan nasional meskipun berbeda dalam setiap tujuan satuan pendidikan. Materi kurkulum tersebut diharapkan dapat memberikan kemudahan bagi peserta didik dalam memahami setiap pembelajaran dan mampu menciptakan proses pembalajaran yang menyenangkan bagi peserta didik sehingga mereka tidak bosan dalam kegiatan pembelajaran.

c.       Metode (Strategi/pendekatan)
Metode adalah cara yang digunakan untuk menyampaikan materi pembelajaran dalam upaya mencapai tujuan kurikulum. Metode atau strategi pembelajaran menempati fungsi yang penting dalam kurikulum, karena memuat tugas-tugas yang perlu dikerjakan oleh siswa dan guru. Ada 3 pendekatan yang dapat di gunakan oleh guru dalam proses pembelajaran yaitu :
-          Pendekatan harus berpusat pada mata pelajaran, maksudnya adalah materi pembelajaran harus sesuai atau fokus dengan mata pelajaran yang akan dipelajari anak pada saat itu.
-          Pendekatan yang berpusat pada siswa, maksudnya adalah pemmbelajaran yang akan dilakukan harus sesuai dengan kebutuhan, minat dan bakat siswa. Dengan pendekatan ini siswa akan lebih mudah dalam memahami dan menerima setiap pembelajaran yang diberikan oleh guru.
-          Pendekatan yang berorientasi pada kehidupan masyarakat, maksudnya adalah dalam proses pembelajaran kita harus melibatkan anak dalam kehidupan masyarakat. Hal ini dapat dilakukan dengan cara melakukan kegiatan karyawisata, berkemah dan kegiatan lain yang dapat membangun hubungan anak dengan masyarakat.

d.      Evaluasi
Evalusai merupakan suatu komponen kurikulum, karena kurikulum adalah pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar. Dengan evaluasi dapat diperoleh informasi yang akurat tentang penyelenggaraan pembelajaran dan keberhasilan belajar siswa.
Maksudnya yaitu dengan adanya evaluasi guru dapat melihat keberhasilan belajar siswa dan dengan evaluasi guru dapat melihat permasalahan dan penyelesaian terhadap proses belajar siswa sehingga dengan begitu guru bisa memilih pendekatan lain untuk memperbaiki kegagalan dalam pembelajaran.

SUMBER :
Dr. Ahmad Yani, M. Si. 2013. Mindset kurikulum 2013. Bandung: Alfabeta
Prof. Dr. Oemar Hamalik.  1994. Kurikulum dan Pembelajaran.  Bandung: Bumi Aksara

Senin, 18 Maret 2019

Materi 4 Filsafat Pendidikan

Hakekat Kebenaran Melalui Berbagai Teori Kebenaran dan Nilai
Hakikat dan Teori-teori Kebenaran dan Nilai
1. Konsep Pengetahuan
    Pengetahuan merupakan suatu hasil tahu manusia terhadap sesuatu yang belum diketahuainya sebelumnya.

2. Konsep Nilai
    Nilai dalam bahasa inggris adalah value yang diartikan sebagai harga, penghargaan, atau taksiran. Maksudnya adalah harga yang melekat pada sesuatu atau pengahrgaan terhadap sesuatu. Bambang Daroeso (1986:20) mengemukakan bahwa nilai adalah suatu kualitas atau penghargaan terhadap sesuatu, yang dapat menjadi dasar penentu tingkah laku seseorang.
     Menurut saya nilai merupakan suatu penghargaan terhadap sesuatu yang dapat merubah kehidupan seseorang. Contoh nya dalam pendidikan anak usia dini yang mana ada seoranng anak yang selalu menyendiri, pemalu dan sering diam. Misalkan guru mengadakan kegiatan bernyanyi yang mana anak tersebut memiliki potensi tersebut. Pada saat itu guru harus bisa meyakinkan anak yang pemalu tersebut bahwa dia bisa melakukannya di depan teman-temannya. Pada saat anak selesai menyanyi berikan pernghargaan kepada anak dengan kata pujian atau hadiah. Dengan hal ini dapat membuat anak senang dan berfikir bahwa ibuk guru dan teman-temannya suka dengan nyanyiannya. Ini dapat merubah anak tersebut menjadi tidak pendiam lagi dan tidak malu dengan teman-temannya.
3. Teori Pengetahuan dan Nilai
a. Teori Pengetahuan 
    Plato melalui metode dialog membangun teori pengetahuan yang cukup lengkap sebagai teori pengetahuan yang paling awal. Secara Tradisional teori kebenaran (pengetahuan) yaitu : (Drs. Surajiyo,2013, hlm105)
- Teori kebenaran saling berhubungan (Coherence Theory of Truth)
   Menurut Kattsoff (1986) dalam bukunya Elements of Philosophy teori koherensi dijelaskan "...suatu proposisi cenderung benar jika proposisi tersebut dalam keadaan saling berhubungan dengan proposisi-proposisi lain yang benar, atau jika makna yang dikandungnyadalam keadaan saling berhubungan dengan pengalaman kita".
     Dapat disimpulkan menurut saya teori koherensi adalah suatu proposisi atau pernyataan dapat dikatakan benar apabila pernyataan tersebut memiliki hubungan dengan ide-ide dari proposisi yang terdaulu yang benar.

- Teori Kebenaran Saling Berkesesuaian (Correspondence Theory of Truth)
   Teori tersebut berangkat dari teori pengetahuan Aristoteles yang menyatakan segala segala sesuatu yang diketahui adalah suatu yang dapat dikembalikan pada kenyataan yang dikenal oleh subjek. (Abbas Hamam, 1996,hlm.166).
    Kesimpulannya menurut saya adalah Suatu proposisi (pernyataan) dapat dikatakan benar apabila sesuai dengan kenyataan atau sesuai dengan apa yang telah terjadi dalam kehidupan.

- Teori Kebenaran Inherensi (Inherent Theory of Truth)
   Teori ini disebut juga dengan teori pragmatis. Pandangannya adalah suatu proposisi bernilai benar apabila mempunyai konsekuensi yang dapat dipergunakan atau bermanfaat. Kattsoff (1986) menguraikan teori kebenaran pragmatis adalah penganut pragmatisme meletakkan ukuran kebenaran dalam sa;ah satu macam konsekuensi.
   Menurut saya teori kebenaran inherensi (pragmatis) adalah suatu proposisi dapat bernilai benar apabila proposisi tersebut memiliki dampak positif yang bermanfaat bagi kehidupan.

- Teori Kebenaran Berdasarkan Arti ( Semantic Theory of Truth )
   Proposisi itu ditinjau dari segi artinya atau maknanya. Apakah proposisi yanng merupakan pangkal tumpunya itu mempunyai referen yang jelas. Oleh sebab itu, teori ini mempunyai tugas untuk menguak kesahan dari proposisi dalam referensinya. (Abbas Hamami M., 1982, hlm.29)
     Menurut saya teori ini mencari kesahan atau kepastian dari proposisi tersebut sesuai referensinya apakah jelas atau tidak. Setelah itu barulah dapat dikatakan proposisi tersebut dapat bernilai benar. 

- Teori Kebenaran Sintaksis
   Para penganut teori kebenaran sisntaksis, berpangkal tolak pada keteraturan sintaksis atau gramatika yang dipakai oleh suatu pernyataan atau tata bahasa yang melekatnya. Dengan demikian suatu pernyataan memiliki nilai benar apabila pernyataan itu mengikuti aturan-aturan sintaksi yang baku.
   Menurut saya dalam teori ini suatu pernyataan akan bernilai benar apabila pernyataan tersebut memiliki tata bahasa yang baku atau tata bahasa yang digunakan memenuhi aturan-aturan tata bahasa yang telah ditetapkan.

- Teori Kebenaran Nondeskripsi
   Suatu pernyataan akan mempunyai nilai benar yang amat tergantung pada peran dan fungsi dari pernyataan itu. Pengetahuan akan bernilai benar apabila pernyataan tersebut memiliki fungsi yang praktis dalam kehidupan.

- Teori Kebenaran Logik yang Berlebihan ( Logical Superfluity of Truth )
   Setiap proposisi mempunyai isi yang sama, memberikan informasi yang sama dan semua orang sepakat, maka apabila kita membuktikannya lagi hal yang demikian itu hanya merupakan bentuk logis yang berlebihan. (Abbas Hamami,1996,hlm.115-121)

b. Teori Nilai 
    Teori tentang nilai dapat dibagi menjadi dua yaitu :
- Nilai Etika
   Etika termasuk cabang filsafat yang membicarakan perbuatan manusia dan memandangnya dari sudut baik dan buruk.Cakupan dari nilai etika adalah adakah ukuran perbuatan yang baik yang berlaku secara universal bagi seluruh manusia, apakah dasar yang dipakai untuk menetukan adanya norma-norma universal tersebut, apakah yang dimaksud pengertian baik dan buruk perbuatan manusia, apakah yang dimaksud kewajiban dan apakah implikasi suatub perbuatan baik dan buruk.
    menurut saya nilai etika berhubungan dengan bagaimana sikap atau tingkah laku yang di pandang dari sudut baik dan buruknya. 

- Nilai Estetika
  Nilai yang berhubungan dengan kreasi  seni dan pengalaman-pengalaman yang berhubungan dengan seni atau kesenian. 

Dari uraian di aas dapat disimpilkan bahwa suatu penilaian terhadap seseorang baiak buruknya terletak pada dirinya sendiri. Bagaiamana tingkah laku dan perbuatannya sehari-hari, bagaiamana mereka bisa menempatkan dirinya pada kehidupaan disekitarnya.

Sumber :
Drs. Surajiyo. 2013.  Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia. Bumi Aksara : Jakarta
http://staff.uny.ac.id
Bahrum, SE, M.Ak,Akt. Ontologi,Epistemologi dan Aksiologi. Dosen Yayasan Pendidikan Ujung Pandang (YPUP)
   

Materi 3 Filsafat Pendidikan

Keterkaitan Antara Agama, Ilmu Pengetahuan dan Agama
1. Ruang Lingkup, Metode dan Pembagian Filsafat
a. Ruang Lingkup Filsafat
    Filsafat merupakan induk  dari segala ilmu-ilmu khusus. 
b. Metode Filsafat
   Anton Bakker menguraikan ada 10 metode filsafat (dalam Filsafat Ilmu & perkembangannya di Indonesia, Drs.Surajiyo) yaitu : 
- Metode Kritis (Plato dan Socrates)
  Metode filsafat dengan cara menganalisis berbagai pendapat atau atauran-aturan yang dikemukakan orang. Hal ini berkitan dengan keyakinan dan pertentangan.
- Metode Intuitif ( Potinus, Bergson)
  
2. Perbedaan Filsafat dengan Ilmu dan Agama

Kamis, 14 Maret 2019

Materi 3 LANDASAN PENGEMBANGAN KURIKULUM

     Kurikulum merupakan rancangan pendidikan yang mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam pendidikan. Oleh karena itu, dalam mengembangkan kurikulum, terlebih dahulu harus diidentifikasi dan dikaji secara efektif , akurat, mendalam dan menyeluruh landasan apa yang akan dijadikan pijakan. Ada empat landasan dalam pengembangan kurikulum yaitu :
1. Landasan Filosofis
    Kurikulum merupakan program pendidikan yang terlibat dalam proses pendidikan yang mana dalam merumuskannya, mengembangkan dan menentukan setiap unsurnya harus dilakukan melalui hasil berpikir yang mendalam, logis, sistematis dan menyeluruh (filosofis). Karena kurikulum merupakan pedoman dalam mengantarkan peserta didik untuk mencapai tujuan.
2. Landasan Psikologis
    Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungan dengan lingkungannya sedangkan kurikulum merupakan suatu upaya untuk merubah tingkah laku manusia. Jadi dalam pengembangan kurikulum harus dilandasi oleh psikologi sebagai acuan dalam menentukan apa dan bagaimana perilaku peserta didik akan dikembangkan.
3. Landasan Sosiologis
    Kurikulum yang akan menjadi pedoman pendidik harus berkaitan dengan unsur budaya. Dalam hal ini anak didik dihadapkan dengan budaya manusia, dibina dan dikembangkan sesuai dengan nilai budayanya. Karena pendidikan merupakan salah satu proses dalam menyiapkan peserta didik dalam menghadapi kehidupan dimasa yang akan datang dan yang selalu mengalami perubahan dengan pesat.
4. Landasan Teknologis
    Pendidikan sering kali dihadapkan pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang dengan pesat. Oleh karena itu pengembangan kurikulum harus didasarkan pada ilmu pengetahuan dan teknologi pula karena dengan begitu kurikulum akan mampu mennyesuaikan dengan kondisi dan situasi yang berkembang pula.

Sumber :
http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/196209061986011-AHMAD_MULYADIPRANA/PDF/Landasan_Kurikulum.pdf

Kamis, 07 Maret 2019

FUNGSI DAN PERANAN KURIKULUM

1. Fungsi kurikulum bagi guru, kepala sekolah, orang tua dan bagi masyarakat
    Kurikulum berfungsi untuk semua orang yang berhubungan dengan penyelenggaraan pendidikan baik secara langsung maupun tidak langsung. 

a. Fungsi kurikulum bagi guru
    Kurikulum merupakan sesuatu yang sangat penting bagi guru dalam proses pembelajaran karena kurikulum berfungsi sebagai pedoman seorang guru dalam memberikan pembelajaran yang akan di ajarkan pada peserta didik. Tanpa adanya kurikulum proses pembelajaran yang dilakukan guru tidak akan berjalan efektif atau sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

b. Fungsi kurikulum bagi kepala sekolah
    Kurikulum merupakan dasar bagi kepala sekolah dalam menyusun perencanaan dan program sekolah. Seperti dalam penyusunan kalender akademik atau sekolah, pengajuan sarana dan prasarana, penyusunan setiap kegiatan yang akan dilakukan sekolah dan kegiatan-kegiatan lainnya.

c. Fungsi kurikulum bagi orang tua
   Kurikulum berfungsi sebagai pedoman bagi orang tua untuk memberikan bantuan atau ketelibatan orang tua dalam program sekolah. Melalui kurikulum orang tua akan mengetahui tujuan apa saja yang harus dicapai anak dan bagaimana ruang lingkup materi pembelajarannya. Nah melalui kurikulum orang tua juga membantu anak-anaknya belajar di rumah sesuai dengan program yang telah di tetapkan sekolah.

d. Fungsi kurikulum bagi masyarakat
    Dengan adanya kurikulum masyarakat dapat memberikan kritikan dan saran semua yang berkaitan dengan program sekolah.

2. Fungsi kurikulum bagi siswa
    Kurikulum berfungsi sebagai pedoman bagi siswa dalam belajar. Melalui kurikulum siswa bisa memahami materi atau bahan yang akan dipelajari, apa yang harus dicapai dan apa pengalaman belajar yang harus dilakukan untuk mencapai tujuannya.

3. Peran kurikulum konservatif, kreatif, kritis dan evaluatif
    Sebagai salah satu komponen dalam pendidikan, kurikulim memiliki 3 peranan yaitu :

a. Peranan konservatif
    Peran konservatif kurikulum adalah melestarikan berbagai nilai budaya warisan masa lalu. Dengan adanya era globalisasi sebagai akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak menutup kemungkinan  budaya asing mempengaruhi budaya lokal yang ada. Oleh karena itu peran kurikulum konservatif sangat penting karena dengan begitu nilai-nilai luhur masyarakat dan identitas masyatakat tetap terjaga dengan baik. 

b. Peran kreatif
    Sekolah memiliki tanggung jawab dalam mengembangkan hal-hal baru sesuai dengan tuntunan zaman. Sebab, pada nyatanya masyarakat tidak bersifat statis, akan tetapi dinamis yang selalu mengalami perubahan. Karena itulah kurikulum memiliki peran kreatif. Kurikulum harus mampu menjaab semua tantangan sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat yang cepat berubah. Oleh karena itu kurikulum harus mengandung hal-hal yang baru sehingga dapat membantu siswa untuk mengembangkan potensinya agar dapat berperan aktif dalam kehidupan sosial masyarakat.

c. Peran kritis dan evaluatif 
   Tidak setiap nilai dan budaya lama harus tetap dipertahankan, sebab kadang-kadang nilai dan budaya lama itu sudah tidak sesuai dengan tututan perkembangan masyarakat, dan adakalanya juga nilai dan budaya baru tidak sesuai dengan nilai-nilai lama yang masih relevan dengan keadaan dan tuntutan zaman. Dengan begitu kurikulum berperan untuk menyeleksi nilai dan  budaya mana yang perlu dipertahankan dan nilai atau budaya mana yang harus dimiliki anak didik. Dalam hal ini lah peran kritis dan evaluatif kurikulum di perlukan.

Sumber :
https://asyharbeni.file.wordpress.com

Senin, 04 Maret 2019

Hakekat Filsafat, Mengenai Objek dan Ruang Lingkup Filsafat


1. Kedudukan filsafat dengan filsafat pendidikan, agama, ilmu dan kebudayaan
a. Hubungan filsafat dengan filsafat pendidikan
        Kaitan antara filsafat dengan pendidikan dapat dipahami dari kenyataan bahwa adanya masalah-masalah pendidikan yang dapat dipecahkan secara teknis, secara ilmiah dan ada juga yang harus dipecahkan secara filsafat. Contoh adanya pertanyaan tentang seperti apa gambaran orang yang memiliki budi pekerti luhur? Maka jawabannya harus dicari dari filsafat karena sesuatu yang bersangkutan dengan keluhuran adalah soal nilai dan kriteria dari nilai tersebut merupakan soal yang menyangkut hakiki, suatu ideal , dan sesuatu ideal sangat memerlukan pemikiran yang sangat mendalam dan memungkinkan adanya berbagai sudut pandang.
        Filsafat sangat diperlukan untuk pemikiran yang menyangkut semua komponen pendidikan dan pemikiran yang menyangkut permasalahan yang terjadi dalam praktik pendidikan.

b. Hubungan filsafat dengan agama
         Kaitan filsafat dengan agama semata-mata kerena keduanya merupakan sumber tata perilaku moral yang di pakai masyarakat pada umumnya. Namun yang harus kita ingat bahwa agama bukanlah budaya karena agama merupakan firman Tuhan yang diberikan kepada manusia lewat para nabi dan rasul untuk pedoman dan panduan hidup manusia. Sedangkan filsafat merupakan hasil olah pikir manusia.
        Dalam hal pedoman moral, fiilsafat maupun agama memberikan sesuatu yang dapat dipakai sebagai pedoman atau pegengan hidup manusia. Kaitan positif filsafat dengan agama terlihat bahwa setiap yang dicari filsafat ada kemiripan dengan apa yang diajarkan agama. 

c. Hubungan filsafat dengan ilmu
        Ditinjau dari perkembangan ilmu, filsafat dipandang sebagai ilmu yang pertama kali muncul dan sekaligus dipandang sebagai induk dari segala ilmu. Filsafat diposisikan sebagai induk segala ilmu dapat kita lihat bahwa filsafat sering dipakai sebagai salah satu kriteria dalam menetapkan suatu bangunan pengetahuan disebut ilmu atau bukan dan juga bergantung pada apakah bangunan tersebut memiliki tiga aspek kefilsafatan, yaitu aspek ontologi, epistemologi, dan aksiologi yang khas, yang berbeda dengan ilmu-ilmu yang sudah ada sebelumnya. Filsafat bagi ilmu pengetahuan yang lain merupakan suatu acuan, dan filsafat mempunyai hak untuk menjadi acuan.

d. Hubungan filsafat dengan kebudayaan
        Dalam bidang budaya filsafat memiliki peranan yang sangat penting karena dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat yang harus dijawab sesuai dengan filsafat yang dianutnnya. Seperti contoh dengan adanya budaya asing yang masuk ke Indonesia maka harus dipertimbangkan terlebih dahulu apakah budaya tersebut bisa menyatu dengan budaya Indonesia dan tetap menjadikan budaya Indonesia sebagai pusatnya atau intinya.

2. Pentingnya filsafat bagi manusia
         Secara fisik upaya manusia untuk mempertahankan dan mengembangkan hidup dimulai dengan perbuatan yang sifatnya naluriah, terutama dalam upaya menyesuaikan diri diri dengan sifatnya alamiah.  Namun dalam perkembangannya manusia juga menggunakan pikirannya untuk mengelola diri sendiri dan lingkungan untuk kepentinngan hidup. Dalam perkembangan manusia tidak hanya memerlukan makanan atau hal lain, tetapi mereka memerlukan ketenangan batin, pergaulan yang menyenangkan dan pemuasan dorongan ingin tahu. Oleh karena itulah mengapa filsafat ini sangat penting bagi manusia.


Sumber :
Drs.H.Soegiono, M.M dan Dr.Tamsil Muis.2012.Filsafat Pendidikan. Bandung:PT Remaja Rosdakarya
         

Pengaruh Komputer Bagi Perkembangan AUD



PENGARUH KOMPUTER BAGI PERKEMBANGAN ANAK DALAM ASPEK NILAI AGAMA DAN MORAL

Komputer merupakan seperangkat alat
elektronik yang dapat digunakan untuk menginput data, memproses data, menyimpan data dan mengeluarkan data dengan elemen yang saling berkesinambungan. Komputer tidak hanya diperlukan oleh orang dewasa atau orang-orang yang bekerja di kantoran saja tetapi juga berguna untuk perkembangan anak usia dini. Salah satu aspek perkembangan yang dapat dikembangkan dengan mengajarkan komputer kepada anak yaitu nilai agama dan moral. Seperti halnya anak usia dini dapat menonton movie bersama kisah tauladan nabi dan rasul. Dengan begitu anak juga bisa dengan mudah memilih movie yang akan di tonton. Setelah menonton movie anak bisa mengetahui sikap apa yang harus di teladani dari cerita tersebut sehingga hal ini bisa dipraktikkan anak pada kehidupan sehari-harinya. Selain menonton movie anak juga bisa belajar huruf hijaiyah dan belajar berbagai macam hal mengenai agama tentunya dengan bimbingan orang tua dan pendidik juga. Komputer banyak memberikan pengaruh yang positif bagi kehidupan yang tentunya dengan penggunaan yang positif juga.