DIALOG
ANTAR ALIRAN ATAS PROBLEMA DAN DILEMATIKA KEHIDUPAN MULTIMENSION
Dialog adalah percakapan mengenai persoalan bersama
antara dua atau lebih orang dengan perbedaan pandangan yang tujuan utamanya
adalah agar setiap partisipan dapat belajar dari yang lain sehingga ia dapat
berubah dan tumbuh. Atau cara melakukan perjumpaan dengan memahami diri sendiri
dan dunia pada tingkatan terdalam, membuka kemungkinankemungkinan untuk
menggali dan menggapai makna fundamental kehidupan secara individu maupun
kolektif dengan berbagai dimensinya. Agama adalah aturan atau tata cara hidup manusia
dalam hubungannya dengan Tuhan dan sesamanya. Agama dapat mencakup tata tertib
upacara, praktek pemujaan, dan kepercayaan kepada Tuhan.Agama juga berfungsi
sebagai pedoman hidup manusia, sehingga tercipta suatu hubungan serasi antar
manusia dan dengan maha pencipta.
Jadi Dialog antar Agama yang dimaksud dalam skripsi
ini adalah pertemuan hati dan pikiran antara pemeluk berbagai agama yang
bertujuan mencari titik temu atau kesamaan fundamental dari setiap agama dan
kerjasama dalam masalah-masalah yang dihadapi bersama.
Beragama pada era dewasa ini memiliki tantangan
tersendiri, karena selain dihadapkan pada makin banyaknya perspektif pemahaman
yang berbeda dalam lingkup agama tertentu di satu sisi, di sisi lain umat
beragama juga dihadapkan pada realitas beragama di tengah agama orang lain.
Budhi Munawar Rachman memberikan deskripsi menarik tentang hal ini dengan
mengatakan:
Dialog antar agama merupakan sebuah solusi dan
menjadi titik inti dalam perubahan dari kehidupan egosentris ke kehidupan
dialogis, karena semua itu akan mengajak diri kita dan orang lain untuk
melakukan transformasi agar kita tetap dapat eksis dan terbuka pada orang lain
dari dunia yang berbeda. Dialog antar agama adalah suatu cara untuk mencapai
kedamaian, akan tetapi ada juga yang menghindarinya, karena untuk menuju dialog
antar Agama ternyata terdapat persoalan yang dirasakan oleh pemeluk agama.
Tujuan dialog antar agama adalah pemahaman bukan
maksudnya untuk mengalahkan yang lain untuk mencapai kesepakatan penuh atau
pada suatu agama universal. Cita-citanya adalah komunikasi untuk menjembatani
jurang ketidaktahuan dan kesalahpahaman timbal balik antara budaya dunia yang
berbeda-beda.Membiarkan mereka bicara dan mengungkapkan pandangan mereka dalam
bahasa mereka sendiri.
Dari realitas yang semakin mengglobal tentang agama
dan beragama yang berpadu dengan cepatnya ilmu pengetahuan dalam berbagai
perspektif yang multidimensional mengakibatkan semakin beragamnya pemahaman
beragama yang semakin lama semakin dinamis.Hal ini tidak bisa terelakkan
dikarenakan beragama bukanlah merupakan sikap yang pasif, tetapi akhir-akhir
ini beragama lebih dipahami sebagai sikap dialogis intelektual yang
proporsional antara manusia, realitas dan Tuhan.Dalam perspektif inilah
beragama semakin menemukan momentum untuk bergerak dinamis dan berakselerasi
dengan tantangan realitas ruang dan waktu.
Nurcholish Madjid, memberikan alternatif pemahaman
tentang beragamnya pola keberagamaan dewasa ini dalam tiga kelompok besar yaitu
beragama secara eksklusif, beragama secara insklusif dan beragama secara
pluralis. Ketiga pola ini merupakan pengelompokkan pola keberagamaan yang
relatif bisa diterima. Beragama secara eksklusif adalah beragama yang secara
umum beranggapan bahwa agamanyalah yang paling benar dan hanya agamanyalah yang
mampu memberikan penyelamatan di akherat nanti. Beragama menganut pola ini
sering diidentikkan dengan fundamentalisme yang dalam perjalanannya memang
memiliki perspektif dan pola yang hampir sama, sedangkan beragama secara
inklusif dan pluralis adalah beragama yang lebih terbuka dan mengakui serta
memahami eksistensi keanekaragaman teologis.
Keberagamaan atau religiusitas tidaklah merupakan
otoritas tetapi perlu diwujudkan dalam berbagai sisi kehidupan
bermasyarakat.Aktivitas keberagamaan bukan hanya terjadi ketika seseorang
melakukan aktivitas yang didorong oleh kekuatan batin dan bukan hanya yang
berkaitan dengan aktifitas yang tampak oleh mata, tetapi juga aktifitas yang
terjadi dalam hati seseorang. Oleh sebab itu keberagamaan seseorang akan meliputi
berbagai macam dimensi yang saling terkait dengan realitas.
SUMBER :
http://eprints.ums.ac.id/20437/2/BAB_I.pdf
Seyyed Husain
Nasr, “Kata Pengantar” Islam dan Filsafat Perenial. Bandung : 1998
Tidak ada komentar:
Posting Komentar