Rabu, 29 Mei 2019

Materi 11 Filsafat Pendidikan



Aliran-aliran dalam filsafat pendidikan
3. Esensialisme
a.      Latar belakang
Kata esensialisme menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia terdapat dua kata, yaitu “esensi” yang berarti “hakikat, inti, dasar” dan ditambahkanmenjadi “esensial” yang berarti “sangat prinsip, sangat berpengaruh, sangat perlu” (Santoso, 2012: 162).Dengan demikian aliran esensialisme adalah aliran yang mengembalikan segala sesuatu pada hakikat dasar yang sebenarnya.Esensialisme berusaha mencari dan mempertahankan hal-hal yang esensial, yaitu sesuatu yang bersifat inti atau hakikat fundamental, atau unsur mutlak yang menentukan keberadaan sesuatu (Wahyuni, 2010: 14).
Esensialisme muncul pada zaman Renaisance dengan ciri-ciri yang berbeda dengan pregresivisme.Dasar pijakan aliran ini lebih fleksibel dan terbuka untuk perubahan, toleran, dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu (Jalaluddin, 1997: 99).Nilai-nilai yang di dalamnya adalah yang berasal dari kebudayaan dan dan filsafat yang korelatif selama empat abad belakang.
Kesalahan dari kebudayaan sekarang menurut essensialisme yaitu terletak pada kecenderungan bahkan gejala-gejala penyimpangannya dari jalan lurus yang telah ditanamkan kebudayaan warisan itu. Fenomena-fenomena sosial-kultural yang tidak diingini kita sekarang, hanya dapat di atasi dengan kembali secara sadar melalui pendidikan, yaitu kembali ke jalan yang telah ditetapkan itu, dengan demikian kita boleh optimis terhadap masa depan kita dan masa depan kebudayaan umat manusia . Puncak refleksi dari gagasan ini adalah pada pertengahan kedua abad ke 19 .
Menurut saya aliran esensialisme merupakan suatu  aliran filsafat yang membawa perubahan yang terjadinya penyimpangan terhadap social kultural agar kembali pada hakikat dasar yang sebenarnya. Hal ini dapat dilakukan melalui pendidikan dengan menerapkan nilai-nilai kebudayaan yang seharusnya.
b.      Tokoh dan pengaruhnya dalam pendidikan
Gerakan ini muncul pada awal tahun 1930, dengan beberapa orang pelopornya, seperti William C. Bagley, Thomas Brigger, Frederick Breed, dan Isac L Kandel, pada tahun 1983 mereka membentuk suatu lembaga yang di sebut "The esensialist commite for the advanced of American Education" Bagley sebagai pelopor esensialisme adalah seorang guru besar pada "teacher college," Columbia University, ia yakin bahwa fungsi utama sekolah adalah menyampaikan warisan budaya dan sejarah kepada generasi muda. Beberapa tokoh aliran inI sebagai berikut :
·         Johan Frieddrich Herbart (1776-1841)
Ia berpendapat bahwa tujuan pendidikan adalah menyesuaikan jiwa seseorang dengan kebijaksanaan Tuhan artinya adanya penyesuaian dengan hukum kesusilaan. Proses untuk mencapai tujuan pendidikan itu oleh Herbart disebut pengajaran.
·         William T. Harris (1835-1909)
Tugas pendidikan adalah menjadikan terbukanya realitas berdasarkan susunan yang tidak terelakkan dan bersendikan ke kesatuan spiritual sekolah adalah lembaga yang memelihara nilai-nilai yang turun menurut, dan menjadi penuntun penyesuaian orang pada masyarakat.
·         Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770 – 1831)
Mengemukakan adanya sintesa antara ilmu pengetahuan dan agama menjadi suatu pemahaman yang menggunakan landasan spiritual.Sebuah penerapan yang dapat dijadikan contoh mengenai sintesa ini adalah pada teori sejarah.Hegel mengatakan bahwa tiap tingkat kelanjutan, yang dikuasai oleh hukum-hukum yang sejenis.Hegel mengemukakan pula bahwa sejarah adalah manifestasi dari berpikirnya Tuhan.Tuhan berpikir dan mengadakan ekspresi mengenai pengaturan yang dinamis mengenai dunia dan semuanya nyata dalam arti spiritual.Oleh karena Tuhan adalah sumber dari gerak, maka ekspresi berpikir juga merupakan gerak.
·         George Santayana
Memadukan antara aliran idealisme dan aliran realisme dalam suatu sintesa dengan mengatakan bahwa nilai itu tidak dapat ditandai dengan suatu konsep tunggal, karena minat, perhatian dan pengalaman seseorang menentukan adanya kualitas tertentu. Walaupun idealisme menjunjung asas otoriter atau nilai-nilai, namun juga tetap mengakui bahwa pribadi secara aktif bersifat menentukan nilai-nilai itu atas dirinya sendiri(memilih,melaksanakan). Dia memadukan antara aliran idealisme dan realisme dalam suatu sintesa dengan mengatakan bahwa nilai tidak dapat ditandai dengan suatu konsep tunggal, karena minat, perhatian dan pengalaman seseorang menentukan adanya kualitas tertentu.
·         William C. Bagley
Filsafat pendidikan esensialisme yang disarikan oleh William C. Bagley memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a)      Minat-minat yang kuat dan tahan lama sering tumbuh dari upaya-upaya belajar awal yang memikat atau menarik perhatian bukan karena dorongan dari dalam diri siswa.
b)      Pengawasan, pengarahan, dan bimbingan orang yang dewasa adalah melekat dalam masa balita yang panjang atau keharusan ketergantungan yang khusus pada spsies manusia.
c)      Oleh karena kemampuan untuk mendisiplin diri harus menjadi tujuan pendidikan, maka menegakan disiplin adalah suatu cara yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut.
d)     Esensialisme menawarkan sebuah teori yang kokoh, kuat tentang pendidikan, sedangkan sekolah-sekolah pesaingnya (progresivisme) memberikan sebuah teori yang lemah

c.       Pendidikan
Dijelaskan tentang beberapa pandangan esensialisme tentang pendidikan sebagai berikut:
ü  Tujuan pendidikan harus jelas dan kukuh yang telah teruji kebenaran dan ketangguhannya dalam perjalanan sejarah.
ü  Sekolah harus mengutamakan realitas dunia dimana siswa hidup dan situasi praktis.
ü  Belajar adalah melatih daya jiwa yang secara potensial sudah ada.
ü  Tujuan belajar adalah untuk mengisi subjek mengerti berbagai realitas, nilai-nilai dan kebenaran baik sebagai warisan sosial maupun makrokosmis.
ü  Proses pembelajaran adalah proses penyesuaian diri individu dengan lingkungan dalam pola stimulus dan respon dengan menggunakan metode tradisional yang menggunakan pendekatan psikologis yang mengutamakan latihan berpikir logis, teratur, ajek, sistematis, menyeluruh, dan latihan penarikan kesimpulan yang baik dan komprehensif.
ü  Kurikulum haruslah kaya, bertingkat dan sistematis yang didasarkan pada satu kesatuan pengetahuan yang tidak dijabarkan lagi, pada sikap yang berlaku suatu kebudayaan demokratis.
ü  Inisiatif pendidikan sepenuhnya tergantung pada guru bukan pada siswa.
ü  Siswa harus disiapkan mentalnya untuk mampu menghadapi berbagai problema kehidupannya, oleh karena itu siswa harus diberikan pengalaman nyata dalam kehidupan masyarakat.

d.      Kurikulum Aliran Esensialisme
Kurikulum esensialisme seperti halnya perenialisme, yaitu kurikulum yang berpusat pada mata pelajaran (subjek matter centered) (Usiono, 2006: 153).Dalam hal ini ditingkat sekolah dasar misalnya, kurikulum lebihditekankan pada beberapa kemampuan dasar, diantaranya yaitu kemampuan menulis, membaca dan berhitung.Sementara itu dijenjang sekolah menengah penekanannya sudah lebih diperluas, misalnya sudah mencakup sains, bahasa, sastra dan sebagainya.

e.       Peran Guru dalam Pandangan Esensialisme
Mengenai peranan guru menurut aliran filsafat esensialisme banyak persamaan dengan perenialisme. Guru dianggap sebagai seorang yang menguasai lapangan subjek khusus dan merupakan model contoh yang sangat baik untuk dicontoh dan tiru. Guru merupakan orang yang mengusai pengetahuan, dan kelas berada di bawah pengaruh dan pengawasan guru (Usiono, 2006: 155). Oleh karena itu peranan guru sangat kuat dalam mempengaruhi dan menguasai kegiatan pembelajaran di kelas.
Guru berperan sebagai sebuah contoh dalam pengawasan nilai-nilai dan penguasaan pengetahuan atau gagasan. Dengan demikian guru atau pendidik berperan sebagai mediator atau jembatan antara dunia masyarakat atau orang dewasa dengan dunia anak.
Guru harus disiapkan sedemikian rupa agar secara teknis mampu melaksanakan perannya sebagai pengarah proses belajar. Adapun secara moral guru haruslah orang terdidik yang dapat dipercaya.Dengan denikian inisiatif dalam pendidikan ditekankan pada guru, bukan pada peserta didik.
Dalam aliran esensialisme ini peran guru sebagai pedoman, contoh dan panutan bagi siswanya. Dalam hal ini guru dituntut untuk memiliki pengetahuan yang luas atau terdidik yang dapat di percaya sebagai pendidik yang menyiapkan masa depan yang jelas bagi anak-anak kedepannya. Tidak hanya sebagai pedoman guru juga sebagai mediator antara dunia masayarakat dengan dunia anak.

SUMBER :
Jalaluddin dan Abdullah Idi.(2012). Filsafat Pendidikan; Manusia, Filsafat dan Pendidikan. Jakarta: Rajawali Press.
Muhmidayeli.(2011). Filsafat Pendidikan. Bandung: Refika Aditama.
Gutek. Gerad Lee. (1974). Philosofical Alternatives in Education. Loyala University of Chicago
Redja Mudyaharjo,(2001:164) Pengantar Pendidikan, Sebuah studi awal tentang dasar-dasar pendidikan pada umumnya dan pendidikan di Indonesia.Jakarta : PT RahaGrafindo Persada
Usiono. 2006. Pengantar Filsafat Pendidikan. Jakarta: Hijri Pustaka Utama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar