Aliran-aliran dalam filsafat pendidikan
3. Esensialisme
a.
Latar
belakang
Kata
esensialisme menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia terdapat dua kata, yaitu
“esensi” yang berarti “hakikat, inti, dasar” dan ditambahkanmenjadi “esensial”
yang berarti “sangat prinsip, sangat berpengaruh, sangat perlu” (Santoso, 2012:
162).Dengan demikian aliran esensialisme adalah aliran yang mengembalikan
segala sesuatu pada hakikat dasar yang sebenarnya.Esensialisme berusaha mencari
dan mempertahankan hal-hal yang esensial, yaitu sesuatu yang bersifat inti atau
hakikat fundamental, atau unsur mutlak yang menentukan keberadaan sesuatu
(Wahyuni, 2010: 14).
Esensialisme
muncul pada zaman Renaisance dengan ciri-ciri yang berbeda dengan
pregresivisme.Dasar pijakan aliran ini lebih fleksibel dan terbuka untuk
perubahan, toleran, dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu
(Jalaluddin, 1997: 99).Nilai-nilai yang di dalamnya adalah yang berasal dari
kebudayaan dan dan filsafat yang korelatif selama empat abad belakang.
Kesalahan
dari kebudayaan sekarang menurut essensialisme yaitu terletak pada
kecenderungan bahkan gejala-gejala penyimpangannya dari jalan lurus yang telah
ditanamkan kebudayaan warisan itu. Fenomena-fenomena sosial-kultural yang tidak
diingini kita sekarang, hanya dapat di atasi dengan kembali secara sadar
melalui pendidikan, yaitu kembali ke jalan yang telah ditetapkan itu, dengan
demikian kita boleh optimis terhadap masa depan kita dan masa depan kebudayaan
umat manusia . Puncak refleksi dari gagasan ini adalah pada pertengahan kedua
abad ke 19 .
Menurut
saya aliran esensialisme merupakan suatu
aliran filsafat yang membawa perubahan yang terjadinya penyimpangan
terhadap social kultural agar kembali pada hakikat dasar yang sebenarnya. Hal
ini dapat dilakukan melalui pendidikan dengan menerapkan nilai-nilai kebudayaan
yang seharusnya.
b.
Tokoh
dan pengaruhnya dalam pendidikan
Gerakan
ini muncul pada awal tahun 1930, dengan beberapa orang pelopornya, seperti
William C. Bagley, Thomas Brigger, Frederick Breed, dan Isac L Kandel, pada
tahun 1983 mereka membentuk suatu lembaga yang di sebut "The
esensialist commite for the advanced of American Education" Bagley
sebagai pelopor esensialisme adalah seorang guru besar pada "teacher
college," Columbia University, ia yakin bahwa fungsi utama sekolah
adalah menyampaikan warisan budaya dan sejarah kepada generasi muda. Beberapa
tokoh aliran inI sebagai berikut :
·
Johan
Frieddrich Herbart (1776-1841)
Ia berpendapat bahwa tujuan pendidikan
adalah menyesuaikan jiwa seseorang dengan kebijaksanaan Tuhan artinya adanya
penyesuaian dengan hukum kesusilaan. Proses untuk mencapai tujuan pendidikan
itu oleh Herbart disebut pengajaran.
·
William T.
Harris (1835-1909)
Tugas pendidikan adalah menjadikan
terbukanya realitas berdasarkan susunan yang tidak terelakkan dan bersendikan
ke kesatuan spiritual sekolah adalah lembaga yang memelihara nilai-nilai yang
turun menurut, dan menjadi penuntun penyesuaian orang pada masyarakat.
·
Georg Wilhelm
Friedrich Hegel (1770 – 1831)
Mengemukakan adanya sintesa antara ilmu
pengetahuan dan agama menjadi suatu pemahaman yang menggunakan landasan
spiritual.Sebuah penerapan yang dapat dijadikan contoh mengenai sintesa ini
adalah pada teori sejarah.Hegel mengatakan bahwa tiap tingkat kelanjutan, yang
dikuasai oleh hukum-hukum yang sejenis.Hegel mengemukakan pula bahwa sejarah
adalah manifestasi dari berpikirnya Tuhan.Tuhan berpikir dan mengadakan
ekspresi mengenai pengaturan yang dinamis mengenai dunia dan semuanya nyata
dalam arti spiritual.Oleh karena Tuhan adalah sumber dari gerak, maka ekspresi berpikir
juga merupakan gerak.
·
George
Santayana
Memadukan antara aliran idealisme dan
aliran realisme dalam suatu sintesa dengan mengatakan bahwa nilai itu tidak
dapat ditandai dengan suatu konsep tunggal, karena minat, perhatian dan
pengalaman seseorang menentukan adanya kualitas tertentu. Walaupun idealisme
menjunjung asas otoriter atau nilai-nilai, namun juga tetap mengakui bahwa
pribadi secara aktif bersifat menentukan nilai-nilai itu atas dirinya
sendiri(memilih,melaksanakan). Dia memadukan antara aliran idealisme dan
realisme dalam suatu sintesa dengan mengatakan bahwa nilai tidak dapat ditandai
dengan suatu konsep tunggal, karena minat, perhatian dan pengalaman seseorang
menentukan adanya kualitas tertentu.
·
William C.
Bagley
Filsafat pendidikan esensialisme yang
disarikan oleh William C. Bagley memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a) Minat-minat
yang kuat dan tahan lama sering tumbuh dari upaya-upaya belajar awal yang
memikat atau menarik perhatian bukan karena dorongan dari dalam diri siswa.
b) Pengawasan,
pengarahan, dan bimbingan orang yang dewasa adalah melekat dalam masa balita
yang panjang atau keharusan ketergantungan yang khusus pada spsies manusia.
c) Oleh
karena kemampuan untuk mendisiplin diri harus menjadi tujuan pendidikan, maka
menegakan disiplin adalah suatu cara yang diperlukan untuk mencapai tujuan
tersebut.
d) Esensialisme
menawarkan sebuah teori yang kokoh, kuat tentang pendidikan, sedangkan
sekolah-sekolah pesaingnya (progresivisme) memberikan sebuah teori yang lemah
c.
Pendidikan
Dijelaskan tentang
beberapa pandangan esensialisme tentang pendidikan sebagai berikut:
ü Tujuan
pendidikan harus jelas dan kukuh yang telah teruji kebenaran dan ketangguhannya
dalam perjalanan sejarah.
ü
Sekolah harus mengutamakan realitas
dunia dimana siswa hidup dan situasi praktis.
ü
Belajar adalah melatih daya jiwa yang
secara potensial sudah ada.
ü
Tujuan belajar adalah untuk mengisi
subjek mengerti berbagai realitas, nilai-nilai dan kebenaran baik sebagai
warisan sosial maupun makrokosmis.
ü
Proses pembelajaran adalah proses
penyesuaian diri individu dengan lingkungan dalam pola stimulus dan respon
dengan menggunakan metode tradisional yang menggunakan pendekatan psikologis
yang mengutamakan latihan berpikir logis, teratur, ajek, sistematis,
menyeluruh, dan latihan penarikan kesimpulan yang baik dan komprehensif.
ü
Kurikulum haruslah kaya, bertingkat dan
sistematis yang didasarkan pada satu kesatuan pengetahuan yang tidak dijabarkan
lagi, pada sikap yang berlaku suatu kebudayaan demokratis.
ü
Inisiatif pendidikan sepenuhnya
tergantung pada guru bukan pada siswa.
ü
Siswa harus disiapkan mentalnya untuk
mampu menghadapi berbagai problema kehidupannya, oleh karena itu siswa harus
diberikan pengalaman nyata dalam kehidupan masyarakat.
d.
Kurikulum Aliran Esensialisme
Kurikulum esensialisme seperti halnya perenialisme,
yaitu kurikulum yang berpusat pada mata pelajaran (subjek matter centered)
(Usiono, 2006: 153).Dalam hal ini ditingkat sekolah dasar misalnya, kurikulum
lebihditekankan pada beberapa kemampuan dasar, diantaranya yaitu kemampuan
menulis, membaca dan berhitung.Sementara itu dijenjang sekolah menengah
penekanannya sudah lebih diperluas, misalnya sudah mencakup sains, bahasa,
sastra dan sebagainya.
e.
Peran Guru dalam Pandangan Esensialisme
Mengenai
peranan guru menurut aliran filsafat esensialisme banyak persamaan dengan
perenialisme. Guru dianggap sebagai seorang yang menguasai lapangan subjek
khusus dan merupakan model contoh yang sangat baik untuk dicontoh dan tiru.
Guru merupakan orang yang mengusai pengetahuan, dan kelas berada di bawah
pengaruh dan pengawasan guru (Usiono, 2006: 155). Oleh karena itu peranan guru sangat
kuat dalam mempengaruhi dan menguasai kegiatan pembelajaran di kelas.
Guru
berperan sebagai sebuah contoh dalam pengawasan nilai-nilai dan penguasaan
pengetahuan atau gagasan. Dengan demikian guru atau pendidik berperan sebagai
mediator atau jembatan antara dunia masyarakat atau orang dewasa dengan dunia
anak.
Guru
harus disiapkan sedemikian rupa agar secara teknis mampu melaksanakan perannya
sebagai pengarah proses belajar. Adapun secara moral guru haruslah orang
terdidik yang dapat dipercaya.Dengan denikian inisiatif dalam pendidikan
ditekankan pada guru, bukan pada peserta didik.
Dalam
aliran esensialisme ini peran guru sebagai pedoman, contoh dan panutan bagi
siswanya. Dalam hal ini guru dituntut untuk memiliki pengetahuan yang luas atau
terdidik yang dapat di percaya sebagai pendidik yang menyiapkan masa depan yang
jelas bagi anak-anak kedepannya. Tidak hanya sebagai pedoman guru juga sebagai
mediator antara dunia masayarakat dengan dunia anak.
SUMBER :
Jalaluddin dan Abdullah Idi.(2012). Filsafat
Pendidikan; Manusia, Filsafat dan Pendidikan. Jakarta: Rajawali Press.
Muhmidayeli.(2011). Filsafat
Pendidikan. Bandung: Refika Aditama.
Gutek. Gerad Lee. (1974). Philosofical
Alternatives in Education. Loyala University of Chicago
Redja Mudyaharjo,(2001:164) Pengantar
Pendidikan, Sebuah studi awal tentang dasar-dasar pendidikan pada umumnya dan
pendidikan di Indonesia.Jakarta : PT RahaGrafindo Persada
Usiono. 2006. Pengantar Filsafat
Pendidikan. Jakarta: Hijri Pustaka Utama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar