LANGKAH-LANGKAH PENYUSUNAN KURIKULUM
1.
Need
Assesment
a. Pengertian
Need Assesment
Apa yang dimaksud
dengan kebutuhan? Kebutuhan (Need) adalah ketidaksesuaian antara harapan dan
kenyataan. Dengan demikian penentuan bahan atau materi kurikulum harus dimulai
dari penilaian apakah bahan yang ada cukup memadai untuk mencapai tujuan atau
tidak.
Need Asesment berkenaan
dengan apa-apa yang dibutuhkan dalam pengembangan desain kurikulum. Kajian
pendekatan yang berbeda terhadap penilaian kebutuhan ini, akan mengarahkan pada
bagaimana menyiapkan, manyusun dan menggunakan informasi yang terbaik, dimana
konteks pengembangan kurikulum secara spesifik dapat memenuhi kebutuhan
individual dan kebutuhan lembaga itu sendiri. Teknik-teknik yang efektif dalam
mengembangkan tujuan umum dan tujuan khusus dapat di susun selama fase analisis
kebutuhan itu sendiri.
b. Perlunya
Need Assesment dalam pengembangan kurikulum
Need Assesment dalam
pengembangan kurikulum sangat diperlukan. Menurut Olivia, “a curriculum need assesment is aprocess for identifying programmatic needs
that must be addressed by curriculum planners”. Analisis kebutuhan
digunakan untuk menilai dan mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan yang
diperlukan siswa dan masyarakat dalam pengembangan kurikulum hakekatnya
berorientasi pada kebutuhan siswa dan kebutuhan masyarakat, termasuk kebutuhan
mata pelajaran.
Need Assesment juga
digunakan untuk mengidentifikasi gap
atau ketidaksesuaian antara performansi siswa yang diinginkan dengan
performansi siswa yang nyata. Dalam sistem persekolahan need assesment diperlukan
untuk menemukan kekurangan-kekurangan kurikulum yang menyangkut misalnya kerja
sama komunitas sekolah dan pemahaman terhadap program-program sekolah untuk
kemudian di perbaiki.
2.
SWOT
Analysis
a. Pengertian
analisis SWOT
Kata analisis dalam
kamus Bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai proses pemecahan masalah atau
permasalahan yang dimulai dengan dugaan akan kebenarannya dan dapat juga di
artikan sebagai pengkajian terhadap suatu peristiwa (tindakan, hasil pemikiran,
dan sebagainya) untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya. Adapun kata “SWOT”
merupakan perpendekan dari Strengths,
Weaknesses, Opportunities, dan Treaths
yang dapat diterjemahkan menjadi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman.
Dengan demikian analisis swot dapat di definisikan sebagai sebuah strategi
terobosan terbaru dalam dunia pendidikan untuk menuntaskan permasalahan atau
hambatan-hambatan dalam lembaga pendidikan.
b. Penerapan
Analisis SWOT
Analisis SWOT merupakan
sebuah pendekatan yang paling terkenal dan paling mutakhir dalam dunia
manajemen. Analisis SWOT juga merupakan sebuah strategi trobosan terbaru dalam
dunia pendidikan untuk menuntaskan permasalahan atau hambatan-hambatan dalam
lembaga pendidikan islam.
Sebuah lembaga pendidikan akan mampu
mencapai tujuan yang telah ditetapkan ketika kekuatan lembaga pendidikan
melebihi kelemahan yang dimiliki. Oleh karena itu lembaga pendidikan tersebut
harus mampu memperdayakan potensi yang dimiliki secara maksimal, mengurangi
resiko-resiko yang akan terjadi. Dengan demikian, secara sederhana dapat
dikatakan bahwa tercapai atau tidaknya tujuan lembaga pendidikan yang telah
ditetapkan adalah fungsi dari lingkungan manajemen lembaga pendidikan.
Keandalan analisis SWOT terletak pada
kemampuan para penentu strategi organisasi (decision maker) untuk memaksimalkan
kekuatan dan pemanfaatan peluang lembaga pendidikan. Harapannya jelas, yakni
bertujuan untuk meminimalisasi kelemahan yang ada dalam internal lembaga
pendidikan dan menekan dampak ancaman yang akan timbul dan harus dihadapi. Jika
analisis SWOT dilakukan dengan tepat, maka upaya untuk memilih dan menentukan
strategi yang efektif akan lebih membuahkan hasil sesuai dengan yang
diinginkan.
Analisis SWOT ada empat titik penekanan
yaitu:
·
Faktor kekuatan (Streng)
Faktor-faktor kekuatan
dalam lembaga pendidikan adalah kompetensi khusus atau keunggulan-keunggulan
lain yang berakibat pada nilai plus atau keunggulan komparatif lembaga
pendidikan tersebut. Hal ini bisa dilihat jika sebuah lembaga pendidikan harus
memiliki skill atau keterampilan yang bisa disalurkan bagi peserta didik,
lulusan terbaik/hasil andalan, maupun kelebihan-kelebihan lain yang membuatnya
unggul bagi pesaing-pesaing serta dapat memuaskan steakholder maupun pelanggan
(peserta didik, orang tua, masyarakat, dan bangsa).
·
Faktor-faktor kelemahan (weaknesses)
Segala sesuatu pasti
memiliki kelemahan adalah hal yang wajar tetapi yang terpenting adalah
bagaimana sebagai penentu kebijakan dalam lembaga pendidikan bisa meminimalisir
kelemahan-kelemahan tersebut atau bahkan kelemahan tersebut menjadi satu sisi
kelebihan yang tidak dimiliki oleh lembaga pendidikan lain. Kelemahan ini bisa
dalam kelemahan dalam sarana dan prasarana, kualitas atau kemampuan tenaga
pendidik, lemahnya kepercayaan masyarakat, atau usaha dan industri dan
lain-lain.
·
Faktor Peluang (Opportunities)
Peluang adalah suatu
kondisi lingkungan eksternal yang menguntungkan bahkan menjadi formulasi dalam
lembaga pendidikan. Situasi lingkungan tersebut misalnya:
a. Kecendrungan
penting yang terjadi dikalangan peserta didik
b. Idntifikasi
suatu layanan pendidikan yang belum mendapat perhatian
c. Perubahan
dalam keadaan persaingan
d. Hubungan
dengan pengguna atau pelanggan dan sebagainya.
·
Faktor ancaman (Treaths)
Ancaman merupakan
kebalikan dari sebuah peluang, ancaman meliputi faktor-faktor lingkungan yang
tidak menguntungkan bagi sebuah lembaga pendidikan. Jika sebuah ancaman tidak
menjadi sebuah penghalang atau penghambat bagi maju dan peranannya sebuah
lembaga itu sendiri. Contoh ancaman tersebut adalah : minat peserta didik baru
yang menurun, kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan
tersebut dan lain-lain.
3.
Penentuan
Tujuan, Content, activity
Sebagai suatu entitas
organisasi, program studi memilki visi dan misi. Misi tersebut lazimnya
dijabarkan ke dalam tujuan dan sasaran. Dalam bidang akademik, tujuan dapat
dibedakan menjadi dua yaitu tujuan administrative dan tujuan pendidikan. Tujuan
pendidikan merupakan deskripsi umum lulusan yang diharapkan dicapai kira-kira
sampai lima tahun setelah kelulusannya. Tujuan pendidikan ditetapkan dengan
mengacu antara lain pada misi da misi program studi, kebutuhan pemangku
kepentingan atau pengguna lulusan, regukasi-resulasi (peraturan-peraturan,
KKNI,SNPT,dan lainnya) serta standar-standar dari lembaga akreditasi yang
dituju.
Tujuan pendidikan
secara umum adalah menyiapkan dan menghasilkan sarjana yang mempunyai kemampuan
akademik dalam menerapkan, mengembangkan dan/atau memperkaya khasanah ilmu
pengetahuan, teknologi dan seni (IPTEKS) serta menyebarluaskan dan mengupayakan
pemanfaatannya untuk kepentingan pembangunan dan dunia usaha, serta
meningkatkan taraf hidup masyarakat.
Kurikulum aktivitas
(activity curriculum) disebut juga kurikulum proyek atau kurikulum pengalaman.
Kurikulum ini pertama kali di perkenalkan di amerika serikat melalui sekolah
percobaan yang di pimpin oleh John Dewey 1897 di Chaniago perbedaan antara
kurikululm subjek matter dan activity curriculum adalah program pendidikan
ditujukan perhatiannya pada anak (child centre) bukan subject centre, belajar
bersama merupakan hasil usaha perhatian bersama, tidak ada pererncanaan yang
mendahului, namun guru tetap bertanggung jawab terhadap beberapa tugas penting
yang menuntu perencanaan.
4.
Evaluasi
Evaluasi kurikulum
merupakan salah satu komponen kurikulum yang dikuasai oleh guru sebagai
pelaksana kurikulum. Bagian-bagian berikut dari modul ini akan difokuskan pada
uraian tentang evaluasi dalam fase pengembangan kurikulum. Tujuannya sebagai
konsep/model evaluasi yang pernah di kembangkan, tinjauan masing-masing
konsep/model dan akhirnya model evaluasi yang disarankan. Sebagai seorang guru
anda tentunya harus memahami betul mengapa suatu kurikulum harus dievaluasi dan
apa yang menjadi tjuan dari evaluasi kurikulum.
Tujuan evaluasi kurikulum, diadakannya
evaluasi di dalam proses pengembangan kurikulum dimaksudkan untuk keperluan:
a. Perbaikan
program
b. Pertanggung
jawaban kepada berbagai pihak
c. Penentuan
tindak lanjut hasil pengembangan
SUMBER
Sukartiwi. 1995.
Monitoring dan Evaluasi Proyek Pendidikan. Jakarta :Pustaka Jaya
Nana
Sudjana.1989. Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung :PT Sinar Baru
Petunjuk Teknis
Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi dengan Merujuk pada KKNI. Kementrian agama RI. Direktorat Jendral
Pendidikan Islam. 2013
Coba jelaskan Jika salah satu langkah2 penyusunan kurikulum tidak ada, apakah kurikulum tetap bisa digunakan?
BalasHapusCoba jelaskan Jika salah satu langkah2 penyusunan kurikulum tidak ada, apakah kurikulum tetap bisa digunakan?
BalasHapusMenurut saya tidak karena langkah-langkah tersebut saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya.
HapusYang mana sebelum menyusun kurikulum kita harus melakukan need assesment atau menilai apakah bahan atau materi yang akan kita ajarkan nanti sudah memadai atau mencapai tujuan yang ingin di capai, jika tidak itu merupakan suatu masalah dalam melakulan penyusunan kurikulum, nah tentunya kita harus menyelesaikan atau memecahkan masalah tersebut dan disini lah analisis swot digunakan dan menetukan tujuan dari penyusunan kurikulum tersebut. Setelah itu evaluasi digunakan untuk memperbaiki program2 yang ada di dalam kurikulum apabila program tersebut tidak mencapai tujuan yang di harapkan
Apakah dalam penyusunan kurikulum harus dengan langkah² yang saudara paparkan?? Jika tidak bagaimana ??
BalasHapus